Ekonomi Digital menyambut 4.5G

bts-1

Bisnis-Implementasi teknologi 4,5G dinilai akan mendorong valuasi ekonomi digital di Indonesia. Pasalnya, implementasi teknologi ini dapat mendorong technopreneur untuk mengembangkan usahanya.

Deputy Director ICT Strategy and Marketing Huawei Indonesia Mohamad Rosidi mengungkapkan implementasi ini pun dapat membantu Indonesia untuk menerapkan konsep smart city.

“Di masa depan, teknologi 4.5G akan membantu terciptanya Indonesia yang lebih aman melalui Smart City, masyarakat yang lebih kreatif di bidang digital, serta mempercepat implementasi teknologi pita lebar (broadband) di Indonesia,” ujarnya, Selasa (17/1).

Pemerintah, dalam rangka menggenjot tumbuhnya ekonomi digital, telah menargetkan terciptanya 1.000 technopreneur pada 2020. Dalam rangka itu, pemerintah telah mengeluarkan gerakan 1.000 startup yang diharapkan mendorong tumbuhnya ekonomi digital.

Rosidi pun menambahkan teknologi ini akan membantu technopreneur untuk mengembangkan usaha mereka, sehingga membantu terciptanya 1.000 technopreneur pada 2020.

Dia menambahkan ada tiga aspek yang menjadi tujuan dari penerapan teknologi 4.5G yaitu Video (untuk individu), WTTx (untuk hunian), dan Cellular Internet of Things. Dengan menggunakan teknologi 4.5G masyarakat mampu menghadirkan pengalaman terbaik menikmati video dengan resolusi 4K dan perangkat Mobile Virtual Reality (VR).

Kehadiran solusi WTTX memungkinkan pengguna rumahan dan UKM untuk dapat mengakses internet dengan kecepatan unduh dan unggah yang super tinggi. Tidak hanya itu saja, jaringan Internet berbasis serat optik nirkabel (4.5G atau 5G) juga memungkinkan pengguna untuk menikmati siaran TV beresolusi 4K, menonton video dan permainan berdefinisi tinggi dengan menggunakan perangkat VR, serta merasakan perkakas rumah berbasis IoT.

Rosidi menjelaskan lebih lanjut jaringan 4.5G akan memberikan tiga manfaat penting pada pengguna seluler di Indonesia, yaitu kecepatan unduh yang tinggi, penggunaan aplikasi-aplikasi pintar di kehidupan sehari- hari, dan tingkat latensi yang rendah (low latency) sehingga memungkinkan transfer data secara cepat tanpa menggunakan kabel.

Teknologi ini dapat menjawab meningkatnya kebutuhan masyarakat akan akses data yang lebih cepat. Berdasarkan data yang dikeluarkan oleh Ernst and Young, terdapat 93,4 juta pengguna Internet dan 71 juta pengguna ponsel pintar di Indonesia pada 2016.

Sebagai tahap awal, pada Oktober 2016, Huawei Indonesia telah bekerja sama dengan Telkomsel untuk meluncurkan uji jaringan 4.5G dalam ruangan tercepat di Jakarta, yang dilanjutkan dengan Bandung dan Surabaya pada Desember 2016.

berkait ekonomi digital, berdasarkan data yang dikeluarkan oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo), pemerintah memperkirakan nilai e-commerce di Tanah Air akan menembus angka US$ 130 miliar atau setara dengan Rp 1.726 triliun di tahun 2020, meningkat secara drastis sebanyak US$ 18 miliar atau setara dengan Rp 239 triliun dibandingkan dengan 2015.

Prediksi ini mengacu pada pemetaan ekonomi digital yang digagas bersama dengan beberapa Kementerian lain untuk memenuhi target dalam menjadikan Indonesia sebagai negara dengan ekonomi digital terbesar di Asia Tenggara pada 2020.

Berdasarkan estimasi pemetaan ekonomi digital, pemerintah optimis dapat menciptakan lebih dari 1.000 technopreneur dengan nilai bisnis sebesar US$ 10 miliar atau setara dengan Rp 132 triliun di tahun tersebut. Usaha Kecil Menengah (UKM) yang mewakili 99,9% perekonomian Indonesia menjadi fokus utama yang akan dikembangkan oleh pemerintah dengan pendekatan ekonomi digital.

sumber: http://koran.bisnis.com/read/20170118/435/620434/ekonomi-digital-ikut-terdongkrak

Perkembangan Kecepatan Akses Internet di Indonesia

Salah satu bentuk teknologi yang dapat diperoleh dengan mudah oleh seluruh kalangan masyarakat adalah internet.  Ya, internet telah membantu mempermudah beragam kegiatan kita. Kini internet tak hanya bisa diakses melalui perangkat desktop PC, tapi juga dapat diakses melalui smartphone, dan ragam jenis gadget lainnya. Tentu mengasyikkan bila kita dapat mengakses internet secara cepat dan lancar.

Namun apakah kita mengenal sejarah perkembangan kecepatan akses internet di Indonesia sebelum bisa berselancar semudah sekarang ini? Jika banyak dari kita yang belum mengetahui sejarah teknologi tersebut, alangkah baiknya bila kita menyimak dulu ulasan singkatnya berikut ini:

1. Berawal dari GPRS

GPRS (General Packet Radio Service) merupakan salah satu teknologi yang memungkinkan proses pengiriman dan penerimaan data berlangsung lebih cepat daripada proses yang menggunakan konsep Circuit Switch Data (CSD). Perpaduan telepon seluler dengan konsep teknologi GPRS telah menghasilkan teknologi baru yang diberi nama 2.5 G. Teknologi ini memungkinkan transfer berbagai format data seperti email, gambar dan akses browser (www).

2. Berlanjut ke EDGE

EDGE adalah singkatan dari Enhanced Data rate for GSM Revolution. Jaringan ini merupakan bentuk pengembangan jaringan GSM yang dulu pada awalnya hanya dimiliki oleh 3 perusahaan telekomunikasi besar di Indonesia, yakni Indosat, Telkomsel dan Excelcomindo. EDGE sendiri dapat diartikan sebagai 2.75G, yang juga mempelopori kehadiran 3G di Indonesia.

Pada awalnya pengaplikasian EDGE bertujuan untuk meningkatkan kecepatan data pada pranala radio GSM. Secara umum, EDGE menawarkan kapasitas akses yang jauh lebih besar dan lebih baik dari GPRS.

3. Munculnya 3G

3G adalah suatu bentuk standar jaringan telepon seluler yang ditetapkan oleh International Telecommunication Union(ITU). Kehadiran 3G memang menjadi evolusi teknologi yang sangat modern. Namun rupanya kehadiran 3G belum mampu memfasilitasi kegiatan menonton video langsung dari internet atau kegiatan percakapan telepon dengan media video (dikenal dengan sebutan video call).

Kendati demikian, kehadiran 3G tentu sudah mengungguli para pendahulunya, seperti GPRS dan EDGE. Tak hanya itu, 3G juga menjadi suatu standar baru bagi berbagai perusahaan telekomunikasi untuk menetapkan kapasitas jaringan kabel yang beredar di pasaran. Di Indonesia sendiri, operator 3G pertama kali dimunculkan sekitar tahun 2004.

4. Lalu 3.5G, Hasil Pengembangan Dari 3G

3.5G sering disebut juga sebagai HSDPA (High Speed Download Packet Access). HSDPA menawarkan konsep yang jauh lebih matang dibandingkan saudara tuanya, 3G. Melalui penggunaan HSDPA, kualitas video call menjadi lebih halus dan jernih, akses internet jauh lebih cepat dan delay VoIP juga bisa diminimalkan. Dengan teknologi ini, kita dapat mengirimkan data sebesar 14.45 Mb dalam satuan waktu per detik. Cukup canggih bukan …

5. Kemudian Munculnya 4G

Pada periode Februari 2014, pemerintah Indonesia mulai mempersiapkan regulasi mengenai msuknya konsep teknologi 4G di Indonesia. Konsep 4G sendiri sebenarnya berbentuk LTE (Long Term Evaluation) yang mengembangkan teknologi 3GPP dan Ultra Mobile Broadband. 4G tentu menawarkan fasilitas dan kecanggihan teknologi yang lebih memadai lagi untuk memenuhi kebutuhan para pengguna internet di Indonesia.

6. Bersiap Diri Untuk si Canggih 5G

Saat ini sepertinya kita harus mulai bersiap untuk menantikan kehadiran si canggih 5G. Bagi pengguna internet awam, fasilitas 5G tentu sangat menggiurkan, dengan kecepatan akses transfer data yang diklaim dapat mencapai angka 10 Gb per detik. Dengan 4G, kita mungkin perlu waktu 1 menit untuk mengunduh sebuah file film.

Namun dengan 5G, kita mungkin hanya butuh waktu 1 detik saja. Hingga saat ini International Telecommunication Union (ITU) telah membentuk organisasi khusus untuk mempelajari pengembangan teknologi 5G. Organisasi tersebut terdiri dari kawasan Eropa, China, Jepang dan Korea Selatan.

Implementasi Network Sharing Perlu Syarat

bts-indonesiaJakarta – Wacana berbagi jaringan (network sharing) antaroperator telekomunikasi yang telah diwacanakan oleh pemerintah bertujuan untuk menciptakan efisiensi industri serta meningkatkan kemampuan daya beli konsumen. Meski demikian, penerapannya perlu memenuhi tiga syarat, yaitu kematangan jaringan (mature network) yang menjangkau ke setiap wilayah NKRI, gap yang rendah terhadap kepemilikan jaringan (low coverage gap) antaroperator, serta tidak ada operator dominan (no operator domination).

Ahli Ekonomi Industri Universitas Gajah Mada (UGM) Fahmi Radhi mengatakan, dengan pemenuhan iga syarat utama tersebut, network sharing akan sukses diimplementasikan. Sebab, dengan kondisi seperti itu, posisi tawar antaroperator lebih setara, serta kemampuan melayani konsumen pun menjadi telah seimbang.

Dia mengingatkan, dalam kondisi jaringan belum matang, kebijakan yang mewajibkan (mandatory) penerapan network sharing justru dikhawatirkan akan menimbulkan persaingan usaha tidak sehat. Network sharing hanya akan menguntungkan bagi operator yang tidak memiliki kecukupan jaringan hingga pelosok Tanah Air. Sedangkan operator pemilik jaringan terbanyak justru akan dirugikan.

“Misalnya, Telkomsel pemilik satu-satunya base tranceiver station (BTS) di Wilayah Papua yang akan digunakan sebagai network sharing oleh pesaingnya, tentu akan dirugikan. Lantaran, Telkomsel harus menanggung biaya investasi (capex) dan biaya operasional (opex) jaringan. Sementara, pesaingnya sebagai pengguna jaringan, hanya menanggung biaya interkoneksi saja,” kata Fahmi di Jakarta, Kamis (15/9).

Karena itu, dia mengingatkan pemerintah untuk memenuhi tiga syarat di atas sebelum mengimplementasikan network sharing. Fahmi pun sempat menyinggung rencana penurunan tarif interkoneksi 26% mulai 1 September lalu yang akhirnya ditunda karena bisa merugikan Telkomsel. Sebab, penetapannya kurang memperhitungkan biaya investasi dan operasional yang dikeluarkan oleh Telkomsel.

“Dalam kondisi tersebut, jika kebijakan network sharing diimplementasikan justru berpotensi menciptakan persaingan usaha yang tidak sehat. Karena, ada pelaku usaha yang dirugikan oleh penerapan kebijakan tersebut,” ujarnya.

Selain itu, lanjut Fahmi, implementasi network sharing dalam kondisi sekarang juga berpotensi akan menghambat pembangunan jaringan telekomunikasi yang lebih luas. Padahal, penambahan jaringan itu masih sangat dibutuhkan untuk menjangkau terutama di kawasan terpencil.

Dia memperkirakan, Indonesia saat ini masih kekurangan sekitar 551 ribu BTS untuk bisa menjangkau konsumen di seluruh pelosok wilayah Indonesia. Investasi pembangunan jaringan tersebut termasuk berisiko tinggi karena potensi pengembalian modalnya kecil (high risk-low return), sebagian besar operator dipastikan enggan membangun jaringan selama masih bisa menggunakan jaringan operator lain melalui skema network sharing.

Karena itu, jika tiga syarat utama network sharing belum terpenuhi, Fahmi pun berpendapat, penetapan tarif interkoneksi sebaiknya diserahkan sepenuhnya pada mekanisme pasar berdasarkan pemintaan dan penawaran dalam skema business-to-business. Sedangkan untuk meningkatkan pembangunan jaringan yang lebih luas, pemerintah seharusnya mewajibakan semua operator untuk secara bersama-sama membangun jaringan yang akan digunakan dalamnetwork sharing untuk menjaga persaingan sehat di industri telekomunikasi Tanah Air.

“Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) juga perlu melakukan pengawasan dalam implementasi network sharing,” ungkap dia.

Persaingan Sehat
Di sisi lain, Chairman Mastel Institute Nonot Harsono mengungkapkan, implementasi network sharing merupakan inisiatif pemerintah demi menciptakan persaingan usaha yang sehat pada industri telekomunikasi. Tujuannya supaya masyarakat memiliki daya beli yang baik, serta dapat menikmati layanan telekomunikasi yang maksimal.

“Konsolidasi antaroperator itu bertujuan supaya menciptakan persaingan yang sehat. Sebab, saat ini yang dominan itu hanya satu operator saja. Jadi, kemungkinan untuk persaingan yang sehat itu sangat kecil. Jadi, kita dorong network sharing supaya terjadi persaingan yang sehat dan berimbang,” ungkapnya.

Nonot juga menjelaskan, yang dimaksudkan dengan network sharing bukan berarti operator-operator yang kecil hanya menumpang jaringan kepada operator yang besar, seperti Telkomsel. Tetapi, di antara operator, misalnya antara Indosat, XL, dan Tri melakukan berbagi (sharing) jaringan. Dengan begitu, operator yang kecil akan dapat mempunyai daya saing yang kuat dan bisa membangun jaringan hingga ke pelosok Tanah Air.

“Jadi, pemahaman yang terjadi di masyarakat selama ini salah. Mereka berpikir bahwa kalau terjadi network sharing, nanti operator kecil numpang di jaringan operator besar. Bukan itu yang dimaksud. Tetapi, di antara operator yang kecil, mereka konsolidasi,” jelas dia.

Lebih lanjut, Nonot juga meminta pemerintah sebagai regulator untuk memberikan insentif kepada operator kecil berupa izin untuk network sharing. Jika diberikan insentif, kemampuan operator kecil akan menjadi berbambah kuat.

“Dengan demikian, mereka bisa diminta atau ditekan untuk membangun jaringan bersama. Insentifnya itu adalah dibolehkan sharing. Kalau nanggung sendiri cukup berat,”

 

Sumber: http://www.beritasatu.com/digital-life/386021-implementasi-network-sharing-perlu-3-syarat.html

Financial Technology “Uang Teman” Dorong Penggunaan Aplikasi Mobile serta Mendukung Keuangan Inklusif

Bisnis.com-Fintech Uang Teman berencana mendorong penggunaan aplikasi mobile sejalan dengan tingginya penetrasi Internet yang menurut data Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) mencapai 132,7 juta pengguna aktif.

ep3-data2

Darmawan Zaini selaku Chief Technology Officer Uang Teman mengemukakan pengguna platform Uang Teman kini masih didominasi pengguna desktop yang mencapai angka sebesar 60%. Sedangkan sisanya menurut Darmawan adalah pengguna smartphone berbasis Android dan iOS.

Uang Teman adalah pinjaman mikro online jangka pendek pertama di Indonesia. Uang Teman memberikan pinjaman mikro jangka pendek tanpa jaminan. Jumlah pengunduh aplikasi Uang Teman telah mencapai angka sebesar 46.000 pengunduh ‎baik pada OS Android maupun pada OS iOS. Dari peluncuran aplikasi Uang Teman versi ke dua, pihak Uang Teman dapat menggenjot pengguna aplikasi mobile lebih banyak lagi. adapun penggunaan aplikasi versi pertama pengunduhnya sudah mencapai 46.000 per Maret 2016 sampai 20 desember 2016. Pada aplikasi uang Teman versi dua layanannya lebih memperhatikan aspek keamanan data penggunanya, dan aplikasi tersebut sudah menggunakan data center lokal, sejalan dengan regulasi Kemenkominfo Pasal 15 ayat 3 pada Peraturan Pemerintah (PP) No. 82/2012 tentang penyelenggaraan Sistem dan Transaksi Elektronik.

menurut Uang Teman sebagai pemain lokal, sudah menggunakan data center lokal dan  juga akan memperhatikan aspek keamanannya.

Menurutnya darmawan, Uang Teman juga akan menggandeng sejumlah operator telekomunikasi untuk melakukan verifikasi keamanan. Saat ini Darmawan mengatakan platform tersebut baru menggandeng operator Telkomsel.

Ke depan Uang Teman berencana untuk menggandeng beberapa operator lagi, saat ini baru operator yang berwarna merah.

Uang Teman,  juga akan menggunakan sejumlah teknologi seperti big data analytics dan cloud untuk memperkuat sistem keamanannya sekaligus menganalisa pola kebiasaan pengguna. Untuk menganalisa, Uang Teman menggunakan teknologi big data analytics dan cloud private.

sumber: http://industri.bisnis.com/read/20161220/105/613438/uang-teman-dorong-penggunaan-aplikasi-mobile

fintech-eco

Perbankan Dinilai Wajib Implementasikan Teknologi Cloud

JAKARTA – Industri perbankan wajib mengimplementasikan teknologi cloud agar transaksi keuangan digital lebih aman seiring dengan tingginya pertumbuhan kelompok hacker yang mengincar sektor keuangan di Indonesia.

cloud1

Heru Sutadi, Pengamat Teknologi dan Informasi mengemukakan dewasa ini sektor perbankan dinilai perlu mengimplementasikan teknologi cloud agar konsumen lebih nyaman dan aman dalam melakukan transaksi digital melalui e-commerce. Menurutnya, perbankan membutuhkan tingkat privasi dan keamanan yang tinggi agar tidak mudah disusupi oleh pihak ketiga.

“Sektor keuangan itu kan harus memiliki privasi dan keamanan yang tinggi, sehingga implementasi cloud juga harus secure dan private,” tuturnya kepada Bisnis di Jakarta, Senin (26/12/2016).

Selain itu, menurutnya, perbankan juga harus patuh pada Pasal 15 ayat (3) pada Peraturan Pemerintah (PP) No. 82/2012 tentang Penyelenggaraan Sistem dan Transaksi Elektronik yaitu menempatkan cloud dan disaster recovery center (DSC) sebagai backup data center perbankan di Indonesia. Pasalnya menurut Heru, sampai saat ini masih banyak perbankan yang meletakkan server cloudnya di Singapura dan Philipina.

“Memang sudah ada bank yang mengimplementasikan cloud, tapi ditaruhnya kebanyakan di Singapura dan Philipina. Mereka (perbankan) seharusnya patuh pada PP 82/2012 dimana keberadaan cloudnya harus ada di Indonesia,”

sumber: http://industri.bisnis.com/read/20161226/84/615014/perbankan-dinilai-wajib-implementasikan-teknologi-cloud

IMPLEMENTASI TKDN: Blackberry Perkuat Layanan Perangkat Lunak

314824_pabrik-haier-untuk-produksi-andromax-smartfren_663_382Bisnis.com, JAKARTA – Blackberry berencana memperkuat layanan software alias perangkat lunak dan keamanan guna memenuhi regulasi Tingkat Kandungan Dalam Negeri (TKDN) untuk ponsel 4G LTE agar tetap dapat beroperasi di Indonesia.

Ralph Pini, Chief Operating Officer Blackberry mengemukakan Blackberry kini fokus menggarap pasar software dan solusi keamanan untuk perangkat smartphone dan memenuhi TKDN. Menurutnya, Blackberry akan menggandeng mitra TCL Communications Technology Holdings Limited sebagai produsen global dan distributor eksklusif Blackberry.

“Kami bekerja sama dengan mereka pada seri smartphone DTEK. Mereka yang akan mendesainhardware Blackberry sekarang,” tuturnya di Jakarta, Minggu (18/12/2016).

Seperti diketahui, pemerintah telah menuntaskan perhitungan teknis regulasi TKDN yang rencananya akan diterapkan mulai 1 Januari 2017 sekitar 30% kandungan komponen lokal sesuai dengan Peraturan Menteri Perindustrian No. 69/2014 tentang Ketentuan Tata Cara Penghitungan Nilai TKDN Industri Elektronika dan Telematika.

Skema TKDN 4G LTE yang telah ditawarkan oleh pemerintah kepada vendor ada dua pilihan. Vendor diperbolehkan memilih investasi software maupun hardware dengan komposisinya yang ditetapkan Kementerian Perindustrian.

Vendor yang memilih untuk melakukan investasi software, harus memenuhi syarat komposisi aplikasi 70%, pengembangan 20% dan manufaktur 10%, sedangkan jika yang dipilih adalahhardware maka komposisi yang harus dipenuhi adalah manufaktur 70%, pengembangan 20% dan aplikasi 10%.

Ralph juga optimistis melalui kerja sama tersebut Blackberry akan mendapatkan kembali pasarnya melalui device DTEK50 dan DTEK60 yang telah mengadopsi Operating System (OS) Android.

Kini, menurutnya, Blackberry hanya akan menyediakan software dan standarisasi keamanan tinggi. “‎Kami senang dapat memperkenalkan handset DTEK50 dan DTEK60 Android yang memberikan standar keamanan tinggi,” katanya.

Secara terpisah, ‎CEO TCL Communications, Nicolas Zibell mengatakan pihaknya akan membantu Blackberry untuk mengembangkan perangkat keras agar dapat disesuaikan dengan regulasi di setiap negara termasuk Indonesia.

Selain itu, dia juga mengatakan TCL Communications akan menjadi distributor dan memasarkan device Blackberry. “Kami akan me‎mastikan kualitas untuk konsumen dan mematikan keamanannya,” katanya.

Menurutnya, TCL Communications berencana mendistribusikan Blackberry ke sejumlah negara di antaranya adalah India, Sri Lanka, Nepal, Bangladesh dan Indonesia. Dia menjelaskan DTEK50 dan DTEK60 akan didistribusikan TCL Communications dalam waktu dekat.

“‎Kami percaya produk merek BlackBerry yang dikembangkan dan didistribusikan oleh TCL Communication akan menjawab kebutuhan pengguna BlackBerry,” tukasnya.

sumber:Ralph Pini, Chief Operating Officer Blackberry mengemukakan Blackberry kini fokus menggarap pasar software dan solusi keamanan untuk perangkat smartphone dan memenuhi TKDN. Menurutnya, Blackberry akan menggandeng mitra TCL Communications Technology Holdings Limited sebagai produsen global dan distributor eksklusif Blackberry. “Kami bekerja sama dengan mereka pada seri smartphone DTEK. Mereka yang akan mendesain hardware Blackberry sekarang,” tuturnya di Jakarta, Minggu (18/12/2016). Seperti diketahui, pemerintah telah menuntaskan perhitungan teknis regulasi TKDN yang rencananya akan diterapkan mulai 1 Januari 2017 sekitar 30% kandungan komponen lokal sesuai dengan Peraturan Menteri Perindustrian No. 69/2014 tentang Ketentuan Tata Cara Penghitungan Nilai TKDN Industri Elektronika dan Telematika. Skema TKDN 4G LTE yang telah ditawarkan oleh pemerintah kepada vendor ada dua pilihan. Vendor diperbolehkan memilih investasi software maupun hardware dengan komposisinya yang ditetapkan Kementerian Perindustrian. Vendor yang memilih untuk melakukan investasi software, harus memenuhi syarat komposisi aplikasi 70%, pengembangan 20% dan manufaktur 10%, sedangkan jika yang dipilih adalah hardware maka komposisi yang harus dipenuhi adalah manufaktur 70%, pengembangan 20% dan aplikasi 10%. Ralph juga optimistis melalui kerja sama tersebut Blackberry akan mendapatkan kembali pasarnya melalui device DTEK50 dan DTEK60 yang telah mengadopsi Operating System (OS) Android. Kini, menurutnya, Blackberry hanya akan menyediakan software dan standarisasi keamanan tinggi. “‎Kami senang dapat memperkenalkan handset DTEK50 dan DTEK60 Android yang memberikan standar keamanan tinggi,” katanya. Secara terpisah, ‎CEO TCL Communications, Nicolas Zibell mengatakan pihaknya akan membantu Blackberry untuk mengembangkan perangkat keras agar dapat disesuaikan dengan regulasi di setiap negara termasuk Indonesia. Selain itu, dia juga mengatakan TCL Communications akan menjadi distributor dan memasarkan device Blackberry. “Kami akan me‎mastikan kualitas untuk konsumen dan mematikan keamanannya,” katanya. Menurutnya, TCL Communications berencana mendistribusikan Blackberry ke sejumlah negara di antaranya adalah India, Sri Lanka, Nepal, Bangladesh dan Indonesia. Dia menjelaskan DTEK50 dan DTEK60 akan didistribusikan TCL Communications dalam waktu dekat. “‎Kami percaya produk merek BlackBerry yang dikembangkan dan didistribusikan oleh TCL Communication akan menjawab kebutuhan pengguna BlackBerry,” tukasnya.

Gotong Royong Hadirkan Internet

Di tengah upaya Indonesia mendorong pertumbuhan ekonomi digital, kehadiran menara telekomunikasi menjadi faktor penting. Pasalnya, mayoritas penduduk Tanah Air melek Internet berkat kehadiran yang dilayani operator telekomunikasi melalui base transceiver station (BTS) yang tersebar hingga ke pelosok daerah.

inet-penetrasi

Survei Penetrasi dan Penggunaan Internet yang dirilis Asosiasi Penyelenggara Jaringan Internet Indonesia (APJII) 2016 memberikan sedikit gambaran. APJII mengungkapkan lebih dari separuh penduduk Indonesia sudah terkoneksi dengan Internet. Akses Internet melalui ponsel pintar mendominasi berkat harga ponsel yang semakin murah.

PJII menyebutkan 132,7 juta orang Indonesia telah terkoneksi dengan Internet. Jumlah itu setara dengan 51,7% dari total penduduk Indonesia yang mencapai 256,2 juta orang. Dari jumlah itu, terdapat 50,7% mengakes Internet melalui perangkat genggam dan komputer, 47,6% melalui ponsel pintar, dan sisanya mengakses hanya melalui komputer.

Survei tersebut menjelaskan alasan mengunakan layanan Internet dari operator ialah kualitas sinyal yang baik, harga terjangkau, dan banyak bonus. Tingkat kepuasan terhadap akses Intenet mobile operator telkomunikasi juga cukup tinggi yakni mencapi 71,1%.

Nonot Harsono, mantan Komisioner Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI), mengatakan akses Internet menggunakan mobile menjadi masif karena kehadiran BTS yang nilai investasinya lebih murah jika dibandingkan dengan menggelar kabel fiber optik ataubroadband.

prangkat1

“Karena harus gali kabel, izin pemda, bangunnya lama sekali. Makanya Palapa Ring itu butuh waktu karena mahal. Secara teknis memang lebih murah yang seluler,” ujarnya kepada Bisnis, Kamis (8/12).

Nonot menjelaskan, penetrasi akses Internet di Tanah Air akan lebih cepat jika makin banyak BTS yang dibangun, sambil terus menggelar kabel yang masih membutuhkan waktu. Akses Internet melalui BTS, paparnya, memiliki kelemahan ketika jumlah pengguna makin banyak, sehingga kecepatan menjadi lelet. Oleh karena itu, ujarnya, kehadiran broadband menjadi penting.

Dia menuturkan dari statistik penyebaran penduduk nampak jelas sekitar 60% penduduk Indonesia berada di Pulau Jawa, sementara 40% lainnya tersebar di pulau-pulau lain. Hal itu membuat penetrasi BTS di wilayah luar Jawa sedikit terkendala dan hanya menyasar kota-kota besar seperti Makassar, Medan, Palembang, Bali dan lainnya.

“Itu menjadi pekerjaan rumah pemerintah karena di Indonesia yang membangun infrastruktur telekomunikasi itu swasta. Di negara maju dibangun pemerintah, swasta hanya yang kecil saja,” tambahnya.

Nonot berpendapat pembangunan BTS seharusnya bisa diatur berdasarkan wilayah yakni kota besar, sub urban, dan daerah terpencil. Untuk kota besar, operator swasta berlomba-lomba membangun BTS, sementara untuk daerah sub urban dan daerah pelosok, pemerintah dapat mendorong operator membangun bersama-sama untuk digunakan bersama-sama aliasnetwork sharing.

Selain itu, untuk wilayah pelosok bisa menggunakan dana universal service obligation (USO). Dana yang dikumpulkan dari para operator itu seharusnya dapat dipakai bersama untuk membangun BTS yang dapat dipakai bersama-sama.

Konsep network sharing, paparnya, merupakan pilihan paling logis untuk bisa menjangkau masyarakat pelosok. Pasalnya, biaya investasi akan lebih murah tetapi memiliki dampak luas dengan menghadirkan layanan telekomunikasi dan Internet hingga ke pelosok.

Menurutnya, konsep network sharing sudah dilakukan oleh Telkom dan Telkomsel. Telkom sebagai induk usaha membangun backbone, sementara Telkomsel membangun BTS sehingga layanan Telkomsel bisa menjangkau hingga ke pelosok.

Dia berpendapat jika Telkom yang memiliki banyak kabel optik yang tersebar di seluruh Tanah Air, membuka akses untuk operator lain seperti Indosat dan XL, maka bisnis Telkom akan makin ciamik karena mendapatkan biaya sewa.

Di sisi lain, peta market share akan perlahan bergeser, di mana pendapatan Telkomsel berpotensi turun secara perlahan berkat kehadiran operator lain yang mulai membangun BTS. Namun, penurunan market share Telkomsel tidak akan terjadi dalam semalam, karena operator lain membutuhkan waktu untuk membangun BTS.

“Di mata hukum Telkom dan Telkomsel itu dua entitas yang berbeda, sehingga seharusnya Telkom bisa melayani operator lain seperti layanan kepada Telkomsel, kalau ndak namanya diskriminasi,” ujarnya.

Sejauh ini, Telkomsel menjadi operator dengan jumlah BTS paling banyak. Perusahaan plat merah itu tercatat memiliki pada kuatal III/2016 memiliki 124.097 BTS. Dua operator lainnya, XL Axiata dan Indosat masing-masing memiliki 78.725 BTS dan 54.212 BTS.

Secara terpisah, Ketua Asosiasi Pengusaha Menara Telekomunikasi Merza Fachys mengatakan pelaku usaha terus membangun menara telekomunikasi. Selama ini, menara telekomunikasi juga selalu digunakan bersama-sama antara operator sehingga tidak menjadi masalah.

“Bahkan di beberapa wilayah, menara telekomunikasi dibangun ramai-ramai oleh perusahaantower provider.”

konten-komersial1

sumber: http://koran.bisnis.com/read/20161209/250/610723/gotong-royong-hadirkan-internet