Gotong Royong Hadirkan Internet

Di tengah upaya Indonesia mendorong pertumbuhan ekonomi digital, kehadiran menara telekomunikasi menjadi faktor penting. Pasalnya, mayoritas penduduk Tanah Air melek Internet berkat kehadiran yang dilayani operator telekomunikasi melalui base transceiver station (BTS) yang tersebar hingga ke pelosok daerah.

inet-penetrasi

Survei Penetrasi dan Penggunaan Internet yang dirilis Asosiasi Penyelenggara Jaringan Internet Indonesia (APJII) 2016 memberikan sedikit gambaran. APJII mengungkapkan lebih dari separuh penduduk Indonesia sudah terkoneksi dengan Internet. Akses Internet melalui ponsel pintar mendominasi berkat harga ponsel yang semakin murah.

PJII menyebutkan 132,7 juta orang Indonesia telah terkoneksi dengan Internet. Jumlah itu setara dengan 51,7% dari total penduduk Indonesia yang mencapai 256,2 juta orang. Dari jumlah itu, terdapat 50,7% mengakes Internet melalui perangkat genggam dan komputer, 47,6% melalui ponsel pintar, dan sisanya mengakses hanya melalui komputer.

Survei tersebut menjelaskan alasan mengunakan layanan Internet dari operator ialah kualitas sinyal yang baik, harga terjangkau, dan banyak bonus. Tingkat kepuasan terhadap akses Intenet mobile operator telkomunikasi juga cukup tinggi yakni mencapi 71,1%.

Nonot Harsono, mantan Komisioner Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI), mengatakan akses Internet menggunakan mobile menjadi masif karena kehadiran BTS yang nilai investasinya lebih murah jika dibandingkan dengan menggelar kabel fiber optik ataubroadband.

prangkat1

“Karena harus gali kabel, izin pemda, bangunnya lama sekali. Makanya Palapa Ring itu butuh waktu karena mahal. Secara teknis memang lebih murah yang seluler,” ujarnya kepada Bisnis, Kamis (8/12).

Nonot menjelaskan, penetrasi akses Internet di Tanah Air akan lebih cepat jika makin banyak BTS yang dibangun, sambil terus menggelar kabel yang masih membutuhkan waktu. Akses Internet melalui BTS, paparnya, memiliki kelemahan ketika jumlah pengguna makin banyak, sehingga kecepatan menjadi lelet. Oleh karena itu, ujarnya, kehadiran broadband menjadi penting.

Dia menuturkan dari statistik penyebaran penduduk nampak jelas sekitar 60% penduduk Indonesia berada di Pulau Jawa, sementara 40% lainnya tersebar di pulau-pulau lain. Hal itu membuat penetrasi BTS di wilayah luar Jawa sedikit terkendala dan hanya menyasar kota-kota besar seperti Makassar, Medan, Palembang, Bali dan lainnya.

“Itu menjadi pekerjaan rumah pemerintah karena di Indonesia yang membangun infrastruktur telekomunikasi itu swasta. Di negara maju dibangun pemerintah, swasta hanya yang kecil saja,” tambahnya.

Nonot berpendapat pembangunan BTS seharusnya bisa diatur berdasarkan wilayah yakni kota besar, sub urban, dan daerah terpencil. Untuk kota besar, operator swasta berlomba-lomba membangun BTS, sementara untuk daerah sub urban dan daerah pelosok, pemerintah dapat mendorong operator membangun bersama-sama untuk digunakan bersama-sama aliasnetwork sharing.

Selain itu, untuk wilayah pelosok bisa menggunakan dana universal service obligation (USO). Dana yang dikumpulkan dari para operator itu seharusnya dapat dipakai bersama untuk membangun BTS yang dapat dipakai bersama-sama.

Konsep network sharing, paparnya, merupakan pilihan paling logis untuk bisa menjangkau masyarakat pelosok. Pasalnya, biaya investasi akan lebih murah tetapi memiliki dampak luas dengan menghadirkan layanan telekomunikasi dan Internet hingga ke pelosok.

Menurutnya, konsep network sharing sudah dilakukan oleh Telkom dan Telkomsel. Telkom sebagai induk usaha membangun backbone, sementara Telkomsel membangun BTS sehingga layanan Telkomsel bisa menjangkau hingga ke pelosok.

Dia berpendapat jika Telkom yang memiliki banyak kabel optik yang tersebar di seluruh Tanah Air, membuka akses untuk operator lain seperti Indosat dan XL, maka bisnis Telkom akan makin ciamik karena mendapatkan biaya sewa.

Di sisi lain, peta market share akan perlahan bergeser, di mana pendapatan Telkomsel berpotensi turun secara perlahan berkat kehadiran operator lain yang mulai membangun BTS. Namun, penurunan market share Telkomsel tidak akan terjadi dalam semalam, karena operator lain membutuhkan waktu untuk membangun BTS.

“Di mata hukum Telkom dan Telkomsel itu dua entitas yang berbeda, sehingga seharusnya Telkom bisa melayani operator lain seperti layanan kepada Telkomsel, kalau ndak namanya diskriminasi,” ujarnya.

Sejauh ini, Telkomsel menjadi operator dengan jumlah BTS paling banyak. Perusahaan plat merah itu tercatat memiliki pada kuatal III/2016 memiliki 124.097 BTS. Dua operator lainnya, XL Axiata dan Indosat masing-masing memiliki 78.725 BTS dan 54.212 BTS.

Secara terpisah, Ketua Asosiasi Pengusaha Menara Telekomunikasi Merza Fachys mengatakan pelaku usaha terus membangun menara telekomunikasi. Selama ini, menara telekomunikasi juga selalu digunakan bersama-sama antara operator sehingga tidak menjadi masalah.

“Bahkan di beberapa wilayah, menara telekomunikasi dibangun ramai-ramai oleh perusahaantower provider.”

konten-komersial1

sumber: http://koran.bisnis.com/read/20161209/250/610723/gotong-royong-hadirkan-internet

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s