IMPLEMENTASI TKDN: Blackberry Perkuat Layanan Perangkat Lunak

314824_pabrik-haier-untuk-produksi-andromax-smartfren_663_382Bisnis.com, JAKARTA – Blackberry berencana memperkuat layanan software alias perangkat lunak dan keamanan guna memenuhi regulasi Tingkat Kandungan Dalam Negeri (TKDN) untuk ponsel 4G LTE agar tetap dapat beroperasi di Indonesia.

Ralph Pini, Chief Operating Officer Blackberry mengemukakan Blackberry kini fokus menggarap pasar software dan solusi keamanan untuk perangkat smartphone dan memenuhi TKDN. Menurutnya, Blackberry akan menggandeng mitra TCL Communications Technology Holdings Limited sebagai produsen global dan distributor eksklusif Blackberry.

“Kami bekerja sama dengan mereka pada seri smartphone DTEK. Mereka yang akan mendesainhardware Blackberry sekarang,” tuturnya di Jakarta, Minggu (18/12/2016).

Seperti diketahui, pemerintah telah menuntaskan perhitungan teknis regulasi TKDN yang rencananya akan diterapkan mulai 1 Januari 2017 sekitar 30% kandungan komponen lokal sesuai dengan Peraturan Menteri Perindustrian No. 69/2014 tentang Ketentuan Tata Cara Penghitungan Nilai TKDN Industri Elektronika dan Telematika.

Skema TKDN 4G LTE yang telah ditawarkan oleh pemerintah kepada vendor ada dua pilihan. Vendor diperbolehkan memilih investasi software maupun hardware dengan komposisinya yang ditetapkan Kementerian Perindustrian.

Vendor yang memilih untuk melakukan investasi software, harus memenuhi syarat komposisi aplikasi 70%, pengembangan 20% dan manufaktur 10%, sedangkan jika yang dipilih adalahhardware maka komposisi yang harus dipenuhi adalah manufaktur 70%, pengembangan 20% dan aplikasi 10%.

Ralph juga optimistis melalui kerja sama tersebut Blackberry akan mendapatkan kembali pasarnya melalui device DTEK50 dan DTEK60 yang telah mengadopsi Operating System (OS) Android.

Kini, menurutnya, Blackberry hanya akan menyediakan software dan standarisasi keamanan tinggi. “‎Kami senang dapat memperkenalkan handset DTEK50 dan DTEK60 Android yang memberikan standar keamanan tinggi,” katanya.

Secara terpisah, ‎CEO TCL Communications, Nicolas Zibell mengatakan pihaknya akan membantu Blackberry untuk mengembangkan perangkat keras agar dapat disesuaikan dengan regulasi di setiap negara termasuk Indonesia.

Selain itu, dia juga mengatakan TCL Communications akan menjadi distributor dan memasarkan device Blackberry. “Kami akan me‎mastikan kualitas untuk konsumen dan mematikan keamanannya,” katanya.

Menurutnya, TCL Communications berencana mendistribusikan Blackberry ke sejumlah negara di antaranya adalah India, Sri Lanka, Nepal, Bangladesh dan Indonesia. Dia menjelaskan DTEK50 dan DTEK60 akan didistribusikan TCL Communications dalam waktu dekat.

“‎Kami percaya produk merek BlackBerry yang dikembangkan dan didistribusikan oleh TCL Communication akan menjawab kebutuhan pengguna BlackBerry,” tukasnya.

sumber:Ralph Pini, Chief Operating Officer Blackberry mengemukakan Blackberry kini fokus menggarap pasar software dan solusi keamanan untuk perangkat smartphone dan memenuhi TKDN. Menurutnya, Blackberry akan menggandeng mitra TCL Communications Technology Holdings Limited sebagai produsen global dan distributor eksklusif Blackberry. “Kami bekerja sama dengan mereka pada seri smartphone DTEK. Mereka yang akan mendesain hardware Blackberry sekarang,” tuturnya di Jakarta, Minggu (18/12/2016). Seperti diketahui, pemerintah telah menuntaskan perhitungan teknis regulasi TKDN yang rencananya akan diterapkan mulai 1 Januari 2017 sekitar 30% kandungan komponen lokal sesuai dengan Peraturan Menteri Perindustrian No. 69/2014 tentang Ketentuan Tata Cara Penghitungan Nilai TKDN Industri Elektronika dan Telematika. Skema TKDN 4G LTE yang telah ditawarkan oleh pemerintah kepada vendor ada dua pilihan. Vendor diperbolehkan memilih investasi software maupun hardware dengan komposisinya yang ditetapkan Kementerian Perindustrian. Vendor yang memilih untuk melakukan investasi software, harus memenuhi syarat komposisi aplikasi 70%, pengembangan 20% dan manufaktur 10%, sedangkan jika yang dipilih adalah hardware maka komposisi yang harus dipenuhi adalah manufaktur 70%, pengembangan 20% dan aplikasi 10%. Ralph juga optimistis melalui kerja sama tersebut Blackberry akan mendapatkan kembali pasarnya melalui device DTEK50 dan DTEK60 yang telah mengadopsi Operating System (OS) Android. Kini, menurutnya, Blackberry hanya akan menyediakan software dan standarisasi keamanan tinggi. “‎Kami senang dapat memperkenalkan handset DTEK50 dan DTEK60 Android yang memberikan standar keamanan tinggi,” katanya. Secara terpisah, ‎CEO TCL Communications, Nicolas Zibell mengatakan pihaknya akan membantu Blackberry untuk mengembangkan perangkat keras agar dapat disesuaikan dengan regulasi di setiap negara termasuk Indonesia. Selain itu, dia juga mengatakan TCL Communications akan menjadi distributor dan memasarkan device Blackberry. “Kami akan me‎mastikan kualitas untuk konsumen dan mematikan keamanannya,” katanya. Menurutnya, TCL Communications berencana mendistribusikan Blackberry ke sejumlah negara di antaranya adalah India, Sri Lanka, Nepal, Bangladesh dan Indonesia. Dia menjelaskan DTEK50 dan DTEK60 akan didistribusikan TCL Communications dalam waktu dekat. “‎Kami percaya produk merek BlackBerry yang dikembangkan dan didistribusikan oleh TCL Communication akan menjawab kebutuhan pengguna BlackBerry,” tukasnya.

Gotong Royong Hadirkan Internet

Di tengah upaya Indonesia mendorong pertumbuhan ekonomi digital, kehadiran menara telekomunikasi menjadi faktor penting. Pasalnya, mayoritas penduduk Tanah Air melek Internet berkat kehadiran yang dilayani operator telekomunikasi melalui base transceiver station (BTS) yang tersebar hingga ke pelosok daerah.

inet-penetrasi

Survei Penetrasi dan Penggunaan Internet yang dirilis Asosiasi Penyelenggara Jaringan Internet Indonesia (APJII) 2016 memberikan sedikit gambaran. APJII mengungkapkan lebih dari separuh penduduk Indonesia sudah terkoneksi dengan Internet. Akses Internet melalui ponsel pintar mendominasi berkat harga ponsel yang semakin murah.

PJII menyebutkan 132,7 juta orang Indonesia telah terkoneksi dengan Internet. Jumlah itu setara dengan 51,7% dari total penduduk Indonesia yang mencapai 256,2 juta orang. Dari jumlah itu, terdapat 50,7% mengakes Internet melalui perangkat genggam dan komputer, 47,6% melalui ponsel pintar, dan sisanya mengakses hanya melalui komputer.

Survei tersebut menjelaskan alasan mengunakan layanan Internet dari operator ialah kualitas sinyal yang baik, harga terjangkau, dan banyak bonus. Tingkat kepuasan terhadap akses Intenet mobile operator telkomunikasi juga cukup tinggi yakni mencapi 71,1%.

Nonot Harsono, mantan Komisioner Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI), mengatakan akses Internet menggunakan mobile menjadi masif karena kehadiran BTS yang nilai investasinya lebih murah jika dibandingkan dengan menggelar kabel fiber optik ataubroadband.

prangkat1

“Karena harus gali kabel, izin pemda, bangunnya lama sekali. Makanya Palapa Ring itu butuh waktu karena mahal. Secara teknis memang lebih murah yang seluler,” ujarnya kepada Bisnis, Kamis (8/12).

Nonot menjelaskan, penetrasi akses Internet di Tanah Air akan lebih cepat jika makin banyak BTS yang dibangun, sambil terus menggelar kabel yang masih membutuhkan waktu. Akses Internet melalui BTS, paparnya, memiliki kelemahan ketika jumlah pengguna makin banyak, sehingga kecepatan menjadi lelet. Oleh karena itu, ujarnya, kehadiran broadband menjadi penting.

Dia menuturkan dari statistik penyebaran penduduk nampak jelas sekitar 60% penduduk Indonesia berada di Pulau Jawa, sementara 40% lainnya tersebar di pulau-pulau lain. Hal itu membuat penetrasi BTS di wilayah luar Jawa sedikit terkendala dan hanya menyasar kota-kota besar seperti Makassar, Medan, Palembang, Bali dan lainnya.

“Itu menjadi pekerjaan rumah pemerintah karena di Indonesia yang membangun infrastruktur telekomunikasi itu swasta. Di negara maju dibangun pemerintah, swasta hanya yang kecil saja,” tambahnya.

Nonot berpendapat pembangunan BTS seharusnya bisa diatur berdasarkan wilayah yakni kota besar, sub urban, dan daerah terpencil. Untuk kota besar, operator swasta berlomba-lomba membangun BTS, sementara untuk daerah sub urban dan daerah pelosok, pemerintah dapat mendorong operator membangun bersama-sama untuk digunakan bersama-sama aliasnetwork sharing.

Selain itu, untuk wilayah pelosok bisa menggunakan dana universal service obligation (USO). Dana yang dikumpulkan dari para operator itu seharusnya dapat dipakai bersama untuk membangun BTS yang dapat dipakai bersama-sama.

Konsep network sharing, paparnya, merupakan pilihan paling logis untuk bisa menjangkau masyarakat pelosok. Pasalnya, biaya investasi akan lebih murah tetapi memiliki dampak luas dengan menghadirkan layanan telekomunikasi dan Internet hingga ke pelosok.

Menurutnya, konsep network sharing sudah dilakukan oleh Telkom dan Telkomsel. Telkom sebagai induk usaha membangun backbone, sementara Telkomsel membangun BTS sehingga layanan Telkomsel bisa menjangkau hingga ke pelosok.

Dia berpendapat jika Telkom yang memiliki banyak kabel optik yang tersebar di seluruh Tanah Air, membuka akses untuk operator lain seperti Indosat dan XL, maka bisnis Telkom akan makin ciamik karena mendapatkan biaya sewa.

Di sisi lain, peta market share akan perlahan bergeser, di mana pendapatan Telkomsel berpotensi turun secara perlahan berkat kehadiran operator lain yang mulai membangun BTS. Namun, penurunan market share Telkomsel tidak akan terjadi dalam semalam, karena operator lain membutuhkan waktu untuk membangun BTS.

“Di mata hukum Telkom dan Telkomsel itu dua entitas yang berbeda, sehingga seharusnya Telkom bisa melayani operator lain seperti layanan kepada Telkomsel, kalau ndak namanya diskriminasi,” ujarnya.

Sejauh ini, Telkomsel menjadi operator dengan jumlah BTS paling banyak. Perusahaan plat merah itu tercatat memiliki pada kuatal III/2016 memiliki 124.097 BTS. Dua operator lainnya, XL Axiata dan Indosat masing-masing memiliki 78.725 BTS dan 54.212 BTS.

Secara terpisah, Ketua Asosiasi Pengusaha Menara Telekomunikasi Merza Fachys mengatakan pelaku usaha terus membangun menara telekomunikasi. Selama ini, menara telekomunikasi juga selalu digunakan bersama-sama antara operator sehingga tidak menjadi masalah.

“Bahkan di beberapa wilayah, menara telekomunikasi dibangun ramai-ramai oleh perusahaantower provider.”

konten-komersial1

sumber: http://koran.bisnis.com/read/20161209/250/610723/gotong-royong-hadirkan-internet

Ketika Fintech dan Bank Saling Meminang

JAKARTA – Beleid yang ditunggu-tunggu itu akhirnya keluar. Peraturan Otoritas Jasa Keuangan (POJK) Nomor 77/POJK.01/2016 tentang Layanan Pinjam Meminjam Uang Berbasis Teknologi Informasi itu bak air yang menuntaskan dahaga pelaku jasa keuangan. Bukan hanya jasa financial technology (fintech), tetapi juga bank.ep3-data2

Pasalnya, dengan keluarnya regulasi tersebut membuat posisifintech di industri jasa keuangan semakin jelas. Tak lagi abu-abu seperti dulu. Ini juga berarti, bank yang katanya terancam dengan kehadiran fintech bisa mengatur strategi. Ingin head to head atau berkolaborasi.

Pilihan terakhir tampaknya lebih realistis. Gelagat bank merangkul fintech kian hari kian tampak. Tak hanya bank berkantong tebal, bank kecil pun sudah melihat potensi ini.

PT Bank Mayora contohnya. Direktur Utama Bank Mayora Irfanto Oeij mengatakan, tahun ini pihaknya bakal menjajaki kerja sama dengan beberapa perusahaan fintech. Langkah ini sebagai tindak lanjut atas sejumlah tawaran yang masuk pada 2016.

“Ada beberapa perusahaan fintech yang telah mengajukan proposal kerja sama bisnis dengan kami. Di 2017 kami akan bersinergi,” katanya di Jakarta baru-baru ini.

PT Bank Central Asia Tbk. (BCA) tak mau ketinggalan. Bank swasta terbesar di Indonesia ini menjadikan 2017 sebagai tahun pengembangan teknologi informasi yang fokus padaf intech.

Presiden Direktur BCA Jahja Setiaatmadja menuturkan, pihaknya ingin masuk ke program-program baru yang bisa menyelaraskan dan fleksible dengan fintech. Untuk itu, BCA tak tanggung-tanggung, duit sekitar Rp1 triliun sampai Rp2 triliun disiapkan untuk pengembangan produk.

Bank Syariah Mandiri (BSM) juga sejak lama menanti kepastian aturan mengenai fintech. Alasannya serupa dengan bank-bank lain, ingin merangkul fintech. Fahmi Ridho, Direktur BSM pernah mengatakan, pihaknya sudah menyiapkan langkah antisipasi bila tren bisnis mengarah ke fintech.

“Ke depan kita akan ke sana. Karena nantinya batas antara bisnis ini mulai kabur,” ujarnya.

Lalu gayung pun bersambut. Aidil Zulkifli, CEO & Co-founder UangTeman berujar, kolaborasi bank dan fintech akan memberikan sinergi yang saling menguntungkan. Dampaknya adalah perekonomian masyarakat Indonesia bisa meningkat karena mendapatkan kemudahan dalam mengakses lembaga keuangan.

Meskipun demikian, kolaborasi ini tetap memperhatikan perbedaan budaya kerja dan pemahaman terhadap proses bisnis yang dijalankan oleh masing-masing industri. “Sudah ada beberapa bank yang mengajak kerja sama tapi saya belum bisa sebut namanya,” tukasnya.

UangTeman adalah penyedia layanan pinjaman online mikro pertama di Indonesia yang merupakan bagian dari PT Alpha Digital Group Pte Ltd, salah satu perusahaan digital keuangan di Asia Tenggara.

Kolaborasi adalah pilihan paling tepat antara kedua industri ini. Masing-masing punya kelebihan. Fintech lebih efisien karena bisa menekan ongkos operasional, sementara bank handal dalam memitigasi risiko.

Sacha Polverini, Senior Program Officer-Regulation and Policy, Financial Services for the Poor Bill & Mellinda Foundation  mengatakan, persaingan antara bank dan fintech malah bakal berdampak negatif.

“Saya tidak berpikir kalau kompetisi antara bank dan perusahaan fintech akan memberikan hasil yang positif,” ujarnya.

Pertumbuhan fintech belakangan ini amat pesat. Terlihat dari nilai investasi yang ditanamkan modal ventura ke start up fintech. Tak kurang US$13,8 miliar atau sekitar Rp186,9 triliun sepanjang 2015, lebih dari dua kali penanaman modal selama 2014.

Saat ini ada 19 fintech yang bernilai di atas US$1 miliar atau kerap disebut sebagai “unicorn”.

Asia telah menjadi salah satu pusat fintech dunia. Di kawasan ini terdapat sekitar 2.500 start up fintech, dan berpotensi menggerus pasar tradisional perbankan.

Berdasarkan data OJK, jumlah sementara perusahaan fintechyang masuk dalam otorisasi OJK sebanyak 120 perusahaan yang beroperasi di Indonesia.

sumber: http://industri.bisnis.com/read/20170104/84/616707/ketika-fintech-dan-bank-saling-meminang

KemKominfo: Pemda Jangan Persulit Pembangunan Menara BTS

JAKARTA – Kementerian Komunikasi dan Informatika meminta pemerintah daerah tidak mempersulit penyediaan pinjam-pakai lahan untuk pembangunan menara stasiun pemancar dan penerima (BTS).

Pelaksana Tugas Direktur Pengembangan Pita Lebar Kemkominfo Marvels Situmorang mengharapkan dukungan pemda untuk terlibat dalam pengembangan infrastruktur telekomunikasi seluler tersebut.

“Semua pihak yang terlibat dapat melaksanakan tanggung jawabnya masing-masing sehingga program ini memberikan manfaat besar bagi rakyat Indonesia,” katanya dalam keterangan resmi, Selasa (27/12/2016).

Kemkominfo terus mengebut pembangunan menara BTS di sisa tahun ini. Untuk kawasan Indonesia Timur, pembangunan infrastruktur tersebut dibiayai kewajiban pelayanan universal (KPU) garapan Balai Penyedia dan Pengelola Pembiayaan Telekomunikasi dan Informatika (BP3TI).

Pada 2016, BP3TI telah membelanjakan sejumlah 197 lokasi BTS di e-katalog. Per 21 Desember, BTS telah on air di 68 lokasi yang tersebar di Kalimantan, Nusa Tenggara Timur, Maluku, Maluku Utara, dan Papua. Di 129 lokasi sisanya sedang dalam proses pengiriman dan pemesanan perangkat secara bertahap sampai akhir Januari 2017.

sumber: http://industri.bisnis.com/read/20161227/101/615289/kementerian-kominfo-pemda-jangan-persulit-pembangunan-menara-bts

Menkominfo: ada tiga sektor rentan kejahatan siber

(ANTARA News) – Menteri Komunikasi dan Informatika (Kominfo) Rudiantara mengemukakan ada tiga sektor yang rentan terhadap kejahatan siber non-“defense”, yakni sektor keuangan (perbankan), kelistrikan dan transportasi, khususnya transportasi udara.

“Ketiga sektor ini nanti juga menjadi prioritas Badan Siber Nasional agar terhindar dari ancaman kejahatan siber. Selain ketiga sektor tersebut, sektor energi dan sumber daya alam juga menjadi perhatian,” kata Rudiantara.

Menkominfo mengemukakan itu, saat ditemui usai diskusi bersama para pejabat dan dosen di lingkungan Universitas Brawijaya (UB) dan Kepala Daerah di Kota dan Kabupaten Malang maupun Provinsi Jatim di Gedung Widyaloka kampus UB Malang, Kamis.

Para pejabat di lingkungan UB tersebut adalah para dekan. Sedangkan kepala daerah adalah Wali Kota Malang Moch Anton, Bupati Malang Dr Rendra Kresna dan Gubernur Jawa Timur Soekarwo.

Para pejabat tersebut menyampaikan “unek-uneknya” sekaligus memberikan saran kepada tiga menteri yang hadir dalam diskusi tersebut.

Lebih lanjut, Rudiantara mengatakan tiga sektor itu menjadi penting karena berdasarkan informasi yang ia terima dari beberapa negara, sektor-sektor tersebut adalah sektor kritis yang memerlukan perhatian khusus. “Oleh karena itu, kami minta ketiga sektor tersebut menyiapkan standarisasi sebagai antisipasi,” ujarnya.

Menurut dia, secara umum Badan Siber Nasional berada di bawah kewenangan Kantor Menkopolhukam. Sedangkan Kemenkominfo akan fokus pada pembuatan standar keamanan di bidang-bidang yang diperlukan.

“Kalau standarisasinya ada dan semua yang berkaitan dengan Badan Siber Nasional ini sudah disosialisasikan sejak tahun lalu,” paparnya.

Sementara itu dalam paparannya pada sesi diskusi, Rudi mengatakan keberadaan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) secara makro, Indonesia berada di urutan keempat di ASEAN, setelah Singapura, Malaysia, dan Thailand.

Namun, lanjutnya, pada 2015 atau setelah 4G masuk dan berkembang, posisi Indonesia bisa menjadi nomor 2. “Nah, yang menjadi tantangannya sekarang ini adalah pemerataan TIK. Untuk aplikasi masih terjadi gap yang cukup menganga antara Pulau Jawa dan di luar Jawa, ujarnya.

Sekarang, kata Rudi, pemerintah sedang menggarap proyek palapa ring dan hasilnya cukup signifikan, dari 114 kota/kabupaten, khususnya di kawasan timur, yang masih terhambat teknologi informasinya, sekarang tinggal 57 kota/kabupaten dan akhir 2018 diharapkan sudah tuntas seluruhnya terkait kesenjangan TI ini.

“Kita berharap proyek palapa ring yang menggunakan anggaran sekitar Rp20 triliun itu pada 2018 atau 2019 sudah selesai dan semua sudah terjangkau broadband,”

sumber: http://www.antaranews.com/berita/605046/menkominfo-ada-tiga-sektor-rentan-kejahatan-siber?utm_source=fly&utm_medium=related&utm_campaign=news

 

5 tren media sosial di 2017

(ANTARA News) – Media sosial menjadi sesuatu yang paling cepat berubah dan memberi dampak yang besar.

Forbes memperkirakan ada 5 tren di media sosial yang akan mendominasi 2017 ini.

1. Berkirim pesan

Aplikasi berkirim pesan seperti WhatsApp, Facebook Messenger, Viber dan WeChat memiliki pengguna yang lebih banyak daripada nama besar lain seperti Facebook, Twitter, LinkedIn dan Instagram.

Generasi milenial lebih memilih SMS dan over-the-top (OTT) messaging untuk berkomunikasi. 62 persen milenial lebih setia pada merk yang berkomunikasi melalui cara tersebut. Diperkirakan ada 2 miliar pengguna berkirim pesan OTT pada 2018.

Mengapa demikian? Orang lebih menyukai sentuhan personal, keterbukaan dan kolaborasi yang diberikan. Dunia bisnis sudah memanfaatkan platform social messaging tersebut, misalnya, di Facebook, cukup klik iklan dan akan dialihkan ke jendela pesan merk tersebut.

2. Melawan hoax

Setiap hari, orang mengakses berita melalui internet, tidak hanya televisi, radio dan koran. Mereka berisiko terpapar berita bohong alias hoax yang beredar dari berbagai situs internet.

Media sosial seperti Facebook dan Twitter sudah mengambil langkah untuk membendung hoax, akun penyebarnya tidak lagi dapat memasang propaganda di platform tersebut.

Generasi melek teknologi, yang sebagian besar mendapatkan informasi dari internet, menyukai kejujuran sehingga tergerak untuk memeriksa kembali berita yang mereka baca. Mereka menginginkan media lebih transparan dengan membagikan konten reportase.

3. Konten autentik

YouTube muncul dengan konsep membagikan video peristiwa nyata dan tidak disaring. Media sosial sekarang mengembangkannya dengan menawarkan video real time, seperti yang ditawarkan Periscope, Facebook Live dan Instagram.

Milenial menyukai video live dan konten yang autentik. Media pun sering mengutip video siaran langsung untuk memberitakan acara besar. Di Amerika Serikat, generasi milenial merupakan penonton aktif dibanding kelompok usia lainnya pada 2016 dan diperkirakan begitu juga pada 2017.

4. Augemented reality

Lensa swafoto dari Snapchat membawa augmented reality ke dunia media sosial. Pokemon GO, meskipun bukan media sosial, menjadi sensasional pada 2016.

Diperkirakan platform media sosial lainnya akan bermain dengan augmented reality pada 2017. Mark Zuckerberg membenarkan Facebook sudah bereksperimen dengan augmented reality, baru-baru ini mereka mengakuisisi Masquerade, filter untuk selfie dan video.

Augmented reality juga memberi kesempatan bagi merk dagang untuk berkomunikasi dengan konsumen dengan membagikan pengalaman, tidak hanya informasi di media sosial.

5. Chatbot

Chatbot adalah kecerdasan artifisial, artificial intelligence (AI), yang dapat membuat percakapan dengan orang. Facebook mengintegrasikannya dengan Messenger, dunia bisnis juga memanfaatkannya untuk berkomunikasi dengan pelanggan.

Chatbots memperbaiki layanan konsumen dengan respon cepat pada komentar dan pertanyaan. Meski pun masih di tahap awal, chatbot terbukti dapat membantu konten yang berkaitan dengan konsumen dan transaksi. Kini, orang lebih menyukai layanan konsumen melalui media sosial daripada telepon karena dirasa lebih efisien dan cepat.

sumber: http://www.antaranews.com/berita/604953/5-tren-media-sosial-di-2017?utm_source=populer_home&utm_medium=populer&utm_campaign=news

Cara mengenali hoax

(ANTARA News) – Berita palsu atau hoax kerap beredar di dunia maya dan bukan hal baru di media sosial, menurut aktivis Southeast Asia Freedom of Expression (SAFEnet) Damar Juniarto.

Damar Juniarto mengatakan ada tiga ketegori fake news atau berita palsu, ada yang bertujuan untuk hiburan dan ada juga yang bertujuan politis.

Berita palsu ada yang dibuat untuk hiburan atau sekedar “lucu-lucuan”, bentuknya bisa berupa meme, pesan berantai atau infografis.

Berita seperti itu dibuat sebagai candaan dan tidak perlu ada penindakan hukum.

Selanjutnya, ada juga berita palsu yang dibuat untuk meraup keuntungan dengan mengundang “clickbait”. Informasi seperti ini dibuat dengan memelintir berita atau informasi sehingga seolah betul-betul terjadi.

Informasi seperti itu harus dipilah lagi karena bermuatan merugikan orang lain.

Terakhir, ada hoax yang merupakan strategi politik untuk menjatuhkan lawan, disinformasi bahkan diarahkan ke segregasi sosial.

“Ini yang perlu kehadiran penegakan hukum yang tegas,” kata dia

Ia menjelaskan ada beberapa hal yang perlu dicurigai pembaca bila mendapatkan informasi, yang berpotensi hoax.

Berita hoax umumnya tidak mencantumkan sumber berita yang tidak valid atau tidak bisa diverifikasi.

Berita juga cenderung tidak memuat dari sisi yang berlawanan atau “cover both side” dan ditulis dengan nada tendensius.

Terakhir, berita hoax kerap menampilkan narasumber anonim.

 

sumber: http://www.antaranews.com/berita/605010/cara-mengenali-hoax